Apa yang terlintas di pikiranmu jika mendengar kata persaingan global, AFTA & MEA? Pastinya akan ada jawaban beragam dari pertanyaan yang saya ajukan tadi. Ada yang menjawab dengan penuh optimisme, ada juga yang menjawab dengan pesimis. Masing-masing akan menjawab dengan argumen masing-masing. Namun sayangnya, mau tidak mau, siap tidak siap, kita harus menghadapi kenyataan bahwa Indonesia akan segera memasuki zona persaingan bebas, MEA 2015. Lalu apa solusi yang bisa ditawarkan agar Indonesia menjadi lebih siap? Pendidikan adalah kuncinya.

Setidaknya hal itulah yang saya dapatkan ketika mengikuti Talk Show dalam rangkaian acara  bersama Putera Sampoerna Foundation yang diadakan di Highland Park Resort Bogor. Talkshow yang dihadiri oleh Ibu Nenny Soemawinata (Managing Director Putera Sampoerna Foundation), Ainun Chomsun (pendiri komunitas Akademi Berbagi), dan M. Ikhlasul Amal Ph.D (Peneliti Pusat LIPI), mengungkapkan kekhawatiran atas pendidikan Indonesia.

PSF Getaway Talk Show

Indonesia yang hampir sepertiga penduduknya berusia di bawah 15 tahun sudah saatnya harus melakukan investasi yang lebih dan memberdayakan sumber daya generasi muda. Kenyataan yang kita hadapi saat ini adalah pendidikan berkualitas hanya ada di kota besar, masih belum merata. Ditambah dengan sistem pendidikan yang baru sebatas mengejar nilai. Padahal menurut Mbak Ainun, sejatinya pendidikan harus membangun karakter.

Tujuan pendidikan di Indonesia masih gamang, secara umum kualitas yang dihasilkannya pun belum mampu bersaing dengan pekerja asing. Hal ini tercermin dari beberapa hal yanng kita bisa lihat lebih dalam, misalnya, persentase membaca Indonesia masih kecil, anak-anak terbiasa untuk menjawab dan menghapal. Mereka tidak terbiasa untuk bertanya, padahal banyak ilmu pengetahuan yang lahir karena sebuah pertanyaan. Mengapa apel jatuh dari pohon? Mengapa bumi itu bulat?

Menurut Badan Pusat Statistik 2010, Indonesia hanya memiliki 22,1 juta orang tenaga kerja terampil, dan hanya 6,5 juta yang ahli di bidangnya. Tidak heran jika banyak posisi penting di Indonesia malah diisi oleh ekspatriat. Padahal untuk mewujudkan prediksi yang menyatakan Indonesia bisa menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-7 di dunia tahun 2030, negara ini harus memiliki 113 juta generasi muda yang memiliki keterampilan dan keahlian. Ternyata perjalanan kita masih jauh, padahal 2030 tinggal 16 tahun lagi.

Merancang Ulang dan Mengubah Arah dengan STEM

Berangkat dari kekhawatiran tersebut kita seharusnya segera berbenah. Tujuan pendidikan harus lebih dari sekedar mengejar nilai dan gelar tanpa memiliki keterampilan. Tujuan pendidikan harus ditetapkan untuk bisa membentuk karakter. Berani berproses, kreatif, punya jiwa pemimpin. Tujuan pendidikan Indonesia harus bisa mengatasi talent gap antara SDM lokal dan asing agar bisa bersaing di pasar bebas yang dibuka lebar tahun depan.

“Butuh keberanian untuk merancang ulang sistem pendidikan Indonesia, mengubahnya menjadi mesin penggerak Ekonomi Indonesia, menciptakan lapangan pekerja, dan meningkatkan kualitas SDM,” begitu ujar Mbak Ainun.

Menarik mendengar Ibu Nenny bercerita bagaimana Putera Sampoerna Foundation mengamati dan merasakan langsung bagaimana pendidikan diterapkan di negara-negara maju seperti Finlandia dan Amerika. Dari hasil pengamatan dan pengalaman tersebut, jadilah apa yang disebut dengan STEM (Science, Technology, Engineering, & Math) yang kini diterapkan di Sampoerna School System. Sistem ini dirancang untuk membentuk karakter, memecahkan masalah dan mengasah pemikiran kritis. Secara tidak langsung ternyata sistem ini juga menguatkan PSF-DNA yang ditanamkan kepada para siswa di Sampoerna School System.

IMG-20141205-WA0019

Sebagai anak pertama yang memiliki adik yang masih bersekolah, menarik sekali bila bisa terlibat dengan pembicaraan bertema pendidikan oleh Putera Sampoerna Foundation. Mungkin ini juga  alasan Institusi Bisnis Sosial pertama di Indonesia ini bisa memperoleh penghargaan ISO 9001:2008 dan dipercaya lebih dari 300 korporasi untuk bisa bekerja sama mencetak calon pemimpin dan wirausahawan dengan memajukan pendidikan. Semoga langkah Indonesia jadi lebih maju bisa dimulai dari sekarang juga.

“Memikirkan pendidikan adalah menyiapkan masa depan.” – Anies Baswedan