Image

Beberapa hari yang lalu, eh ralat, beberapa minggu yang lalu Google Chrome saya mulai sering ngadat alias crash. Ini belum pernah terjadi semenjak saya dapet Ultrabook Acer Aspire P3 di acara peluncurannya beberap bulan yang lalu. Kejadian browser yang crash ini cukup menyebalkan mengingat pekerjaan saya sehari-hari sangat bergantung pada browser dan laptop.

Awalnya saya menduga ini karena plugin yang saya gunakan. Untuk informasi, saya hanya menggunakan 2 plugin pada browser saya, yaitu Pocket dan Any.Do. Berbekal dugaan itu, saya disable lalu uninstall keduanya. Setelah itu ultrabook saya beroperasi dengan aman seperti biasanya, tapi beberapa hari kemudian kejadian crash terulang lagi. Huh! Sudah kehilangan plugin yang sangat bermanfaaat, tapi crash belum ilang juga.

Dugaan kedua adalah karena antivirus yang terlalu bawelSaya periksa antivirusnya, saya baru sadar kalau OS saya (windows 8 ori) memiliki 2 antivirus yang berjalan bersamaan. Satu antivirus berupa aplikasi (saya lupa namanya), satu lagi adalah bawaan dari OS. Saya matikan koneksi internet, lalu saya disable aplikasi antivirus, kemudian saya uninstall. Sekarang saya beraktifitas dengan hanya menggunakan satu antivirus dan browser tanpa plugin. Semua kembali berjalan lancar.

Jengjeng! Tapi ternyata saya salah. Chrome kembali ngadat beberapa hari kemudian.

Gejala yang terakhir ini lumayan menjengkelkan. Tidak hanya browser yang crash dan kadang meminta force close, tapi ultrabook saya juga kadang hanya menampilkan warna biru beberapa detik untuk kemudian bisa beroperasi normal kembali. Itu terjadi lebih dari satu kali dalam sehari. Dalam gejala terakhir ini muncul juga notifikasi di bawah ini.

Image

Awalnya saya mengira hal itu adalah ultrabook saya low pada RAM, karena itu saya langsung mematikan beberapa proses pada background, kemudian saya matikan secara manual beberapa program yang masih berjalan melalui task manager. Saya yang biasanya seenak jiwa ketika open new tab di browser, kemudian mulai ‘berhemat’ dalam membuka tab baru.

Tapi semua tetap gagal. Chrome masih crash dan menunjukkan notifikasi yang sama.

Aha! Saya baru inget, storage (harddisk/Solite State Drive. Dalam kasus ini saya menggunakan SSD) juga butuh ‘bernafas’ saat beroperasi. Perkiraan saya adalah paling tidak harus ada minimal 1-2 GB tersisa. Saya segera memeriksa kapasitas SSD, mengingat SSD ultrabook saya hanya tersedia 32 GB dan itupun sudah terpotong kurang lebih 5 GB untuk OS. Betul saja, ternyata SSD saya hanya tersisa kurang dari 50 MB. Waduh!

Buru-buru saya pindahkan film dan foto-foto ke storage lain. Untuk film ada beberapa yang saya hapus (gampang lah nanti tinggal download lagi), tapi untuk foto semua saya upload ke cloud storage.

Akhirnya saya punya kapasitas tersisa sekitar 5 GB di SSD, Chrome-pun mulai berjalan lancar meskipun dalam keadaan 10 tab terbuka. Bahkan saat menulis artikel ini saya juga membuka Opera dan Windows Explorer.

Lega.

Berarti kalau dirangkum dari cerita di atas, ada beberapa cara yang kita lakukan agar Chrome tidak crash lagi:

  1. Cek plugin pada tahap awal. Dalam beberapa kasus, plugin yang mengganggu dan berbahaya bisa mengganggu kerja browser. Meskipun ternyata plugin yang saya pakai bukanlah faktor utama pembuat crash. Oiya, beberapa plugin juga butuh di-update agar compatible, plugin flash misalnya.
  2. Gunakan satu antivirus saja. Menurut saya, cukup menggunakan yang bawaan dari OS. Selain karena sudah mumpuni, dengan satu antivirus ini juga akan membuat ringan kerja RAM kita.
  3. Sisakan kapasitas harddisk / SSD sekitar 1-2 GB agar mereka bisa ‘bernafas’ saat beroperasi. Apalagi untuk pengguna SSD. Teknologi SSD ini lebih canggih dari harddisk, tapi untuk saat ini harganya masih mahal sehingga kapasitas yang bisa gunakan belum terlalu besar.

Ada yang sering mengalami crash pada Google Chrome juga? Semoga langkah-langkah saya di atas bisa membantu kalian mengidentifikasi dan ngebenerin masalahnya ya.